SP Danamon

PERJALANAN SP DANAMON...

Semenjak didirikan pada tahun 1997 dalam perjalanannya Serikat Pekerja Bank Danamon (SP Danamon) telah banyak mengalami pasang surut, asam manis, pahit getirnya perjuangan, karena saat dibentuk pertama kali adalah dimasa krisis Ekonomi dan Perbankan, dimana saat itu banyak bank yang “collapse” termasuk Danamon yang nyaris ikut collapse, kemudian  diambil alih oleh BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) karena dibentuk ditengah krisis terebut tentu pola fikir dan perjuangan saat itu tujuannya adalah untuk melindungi karyawan dari PHK massal serta untuk mengantisipasi hal terburuk yang terjadi seandainya saat itu Danamon terlikuidasi.

Pada periode tersebut pola perjuangan SP danamon menganut pola garis keras, karena saat itu tidak ada satupun pimpinan yang dapat menjamin Danamon akan tetap eksis, karyawan dirundung frustasi setiap hari hanya menunggu berita apakah akan masuk katagori BBO atau Merger, para pendiri Serikat waktu itulah yang selalu memberi semangat agar karyawan tetap bekerja seperti biasa, beberapa Demo digelar di gedung Pusat Danamon Anggana Jl Sudirman, demo ini untuk menunjukan bahwa kami karyawan Danamon masih Eksis.
 

Saat dalam genggaman BPPN SP Danamon mengalami perubahan kembali, karena suasana sudah mulai membaik dan Allhamdulillah Danamon Merger dengan 9 Bank dengan tetap menggunakan nama Danamon, inilah kebanggaan kami, saat itu SP Danamon menganut pola “wait and see”, apa lagi beberapa pendirinya sudah resign untuk mencari kehidupan yang lebih baik sesuai dengan harapan masing-masing, tinggal para pengurus yang tersisa kembali menggalang kekuatan. Sampai saat Danamon dijual dan dibeli oleh TEMASEK tahun 2002, Serikat Pekerja masih mencari bentuk dan jati dirinya. 

Setelah MUNAS SP Danamon I tahun 2003, SP Danamon mulai menemukan bentuknya dimana kesolidan menjadi ciri perjuangannya, di era  itu hubungan dengan manajemen sempat memanas karena perbedaan pendapat dan  masing-masing pihak mempertahankan pendirian dengan caranya masing-masing. Setelah saling menyadari akhirnya hubungan antara Manajemen tingkat atas (BOD) dengan SP Danamon saling menjajagi untuk kearah yang lebih harmonis, tetapi masih ada beberapa oknum didalam manajemen dan karyawan sendiri yang tidak sejalan dengan kebijakan Manajemen (BOD), yang menganggap kehadiran Serikat Pekerja tidak ada gunanya hanya menghambat tujuan mereka, sementara  BOD dan SP Danamon saling menghargai sebagai “MITRA”, ini suatu hal yang ironis dimana kebijakan BOD tidak didukung sepenuhnya oleh ‘segelintir’ kalangan manjemen sendiri demi kepentingan pribadi dan kelompoknya saja, sehingga kadang timbul gejolak yang seharusnya tidak perlu terjadi, sementara dilingkungan karyawan dan Serikat Pekerja sendiri ada yang tidak setuju dengan hubungan yang cukup harmonis, dimana mereka menghendaki SP Danamon tetap menganut pola garis keras (sakleq bahasa hari-harinya) dalam menyikapi setiap kebijakan manajemen yang dianggap merugikan karyawan kebanyakan dan mengartikan hubungan yang cukup harmonis antara SP Danamon dengan Manajemen sebagai sikap  SP Danamon yang tidak Independen lagi. Hingga sampai periode 2008 masih ada hal-hal seperti ini walaupun sudah tidak terang-terangan lagi.

Sementara ditingkat BOD hubungan dengan  SP Danamon cukup sinergis dan harmonis dengan diadakannya pertemuan setiap bulan degan Direktur HR dan IR (Industrial Relations) beserta jajarannya dimana dalam pertemuan bulanan ini banyak dibicarakan issue yang ada dikalangan karyawan dan membahas kesejahteraan karyawan yang mungkin dapat diberikan oleh manajemen.Pertemuan dengan direktur utama (CEO) dan BOD diadakan setiap tiga bulan atau kapanpun jika ada hal-hal yang bersifat darurat yang perlu dibicarakan dapat dilakukan dan diminta oleh masing-masing pihak dengan mengedepankan kepentingan bersama. 

Sejak Era MUNAS SP BDI II, tahun 2006 dan MUNAS III tahun 2009. sampai saat ini, belajar dari pengalaman sebelumnya, dalam memperjuangkan kepentingan karyawan  SP Danamon lebih mengedepankan dialog dan kemitraan yang tulus dalam menghadapi setiap permasalahan yang timbul, walaupun kadang ditanggapi lain oleh sebagian masing-masing pihak.

Kedekatan dengan BOD dan jajaran manajemen baik diwilayah maupun dipusat dimanfaatkan untuk sepenuhnya perbaikan kesejahteraan karyawan, dialog yang baik dan saling menghargai dengan menampilkan fakta dan data mulai terjalin dengan mulus walaupun disana sini masih ada kekurangan dan kelemahannya. Sampai pada tahun 2008 CEO saat itu Sebastian Paredes menginstruksikan salah satu KPI RCO (pinwil) adalah membina hubungan baik dengan SP Danamon dimasing masing region.

Memang kadang hubungan yang Harmonis tersebut menimbulkan kecemburuan sampai kesalah fahaman, bahkan fitnah jahat dari pihak-pihak yang belum memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi dan apa arti hubungan yang Harmonis tersebut. 

SP Danamon pengontrol kebijakan manajemen sekaligus sebagai corong karyawan, selalu mencari masukan-masukan dari karyawan, masukan-masukan dari karyawan didapat oleh Serikat dari berbagai cara dan sumber diantaranya email, sidak dan saat soisalisasi kebijakan kepada karyawan diberbagai daerah, serta dari pengurus wilayah. Untuk kemudian disampaikan kepada BOD melalui pertemuan rutin baik bulanan maupun triwulanan yang sudah terjalin tahun-tahun sebelumnya, yang biasa disebut “Partisipasi”. ini demi kepentingan dan kemajuan bersama, perusahaan maju, karyawan sejahtera… itulah harapan kita semua. Dimana “Partisipasi”, (right of say) adalah demokratisasi dalam sebuah Perusahaan dan employee influence, semuanya relatif merupakan konsep yang sudah tua, namun demikian pada saat ini kembali mulai diperhatikan.

Diregion SP Danamon masing-masing region melakukan pertemuan rutin juga dengan para petinggi setempat dan HR Region, yang hasil dari pertemuan tsb dikirimkan ke DPP SP D untuk dibahas ditingkat pusat.  Jika kita simak manajemen telah mulai mau bermusyawarah, berunding dan menerima masukan dari Serikat Pekerjanya (dimana masukan bukan hanya sekedar ditampung saja). Kemitraan yang Tulus dan Partisipasi inilah pola yang coba Serikat Pekerja jalankan walau masih banyak pihak yang belum dapat menerima dan memahami pola perjuangan seperti  ini, tetapi kami yakin pada saatnya nanti semua akan mencoba mengikuti pola perjuangan seperti ini.: 

SP Danamon adalah bagian yang tak terpisahkan dari perusahaan dengan segala dinamikanya yang ada, pola perjuangan diatas yang saat ini Serikat jalankan ditengah banyaknya pola perjuangan Serikat-serikat Pekerja sejenis, ini sudah terbukti, dengan pola baru ini sudah beberapa kali perjuangan untuk peningkatan kesejahteraan dapat berhasil seperti :

  • 2006 Pembatasan outsourcing pada core business
  • 2006 Program “tarik gerbong” utk karyawan non golongan utk karir yg lebih tinggi
  • 2007 Lembur Wajib dibayar
  • 2008 peningkatan asuransi kesehatan, dan berbagai bantuan dari perusahaan untuk bencana alam melalui Danamon Peduli dan Karyawan Danamon Peduli
  • 2008 pelaksanaan COLA akibat kenaikan BBM yang menyebabkan kenaikan harga-harga
  • 2008 training-training untuk menambah bekal pengetahuan hidup anggota/karyawan, salah satu yang masih dijalankan sampai sekarang adalah DLA (Danamon Leadership Academy), diawali dengan pembentukan clinic PUK di kampus Ciawi
  • 2008 Tidak ada PHK Massal, akibat krisis global maupun miss management di internal Danamon, meskipun seluruh karyawan tidak mendapat kenaikan gaji selama 2 tahun, dan bonus hanya setengahnya, fasilitas dikurangi termasuk COP di bekukan, fasilitas untuk level atas dikurangi, sehingga program effisiensi di Danamon dapat berjalan dengan mulus tanpa gejolak, dan kita bersama-sama berhasil melewati masa sulit itu
  • Penanganan korban bencana alam, diseluruh wilayah Indonesia termasuk banjir besar di Jakarta, Waisor Wamena, dan terakhir banjir bandang Manado serta akibat letusan gunung antara lain Merapi dan  Kelud
  • Penanganan penyelamatan karyawan di daerah kerusuhan seperti Poso, Ambon, Tarakan dll.
  • 2009 COP kembali dibuka, dengan nilai baru
  • 2009 Penyesuaian Upah (di SEMM)
  • 2010 Bonus kembali seperti semula mulai dari 1x gaji
  • 2010 Karir / job posting – email dari SDM dan diulangi oleh email blast Presdir Mr. Henry Ho
  • 2010 Wajib cuti (block leave)
  • 2010 Tunjangan Petugas ATM
  • 2011 Salary increase up to 10 – 16 %
  • 2011 Perbaikan Asuransi Kesehatan
  • 2011 Tunjangan BSM dlm masa percobaan
  • 2011 Pembahasan Alihdaya di BI à PBI Alihdaya
  • 2012 Penambahan uang keagamaan 100 rb ke 125 rb
  •          Penambahan uang outing 200 rb ke 250 rb
  • 2012 Penghargaan masa kerja mulai dari 10 tahun
  • 2012 Pelaksanaan UMSP
  • 2012 Lumpsum utk grade 1s/d 6
  • 2012 Penggabungan T3K ke komponen upah, sudah dilaksanakan di UUS dan HR
  • 2013 Penanganan korban banjir besar di Jakarta
  • 2013 Penanganan Demo Karyawan korban PHK Massal (case ASM) di Surabaya des 2012
  • 2013 pelaksanaan COLA untuk yang ketiga kalinya
  • 2014 kita sedang mempersiapkan gugatan PHI atas pelaksanaan uang cuti besar sesuai pasal 79, UU No 13 tahun 2003, dan penggabungan T3K ke komponen upah
  • 2014 mengkritisi kebijakan effisiensi dan cost cutting yang cenderung mengorbankan karyawan level bawah
  • Dan masih banyak lagi hal hal positif yang telah dilakukan namun tidak bisa diuraikan satu persatu di tulisan ini

 Sedangkan persoalan yang menyangkut perselisihan antara karyawan dengan perusahaan yang menimbulkan gejolak sebenarnya tidak perlu terjadi jika semua proses sejak awal sudah dilakukan dengan baik, benar dan fair sesuai ketentuan PKB dan UU ketenagakerjaan yang berlaku, ini yang selalu SP Danamon minta dan argumentasikan sehingga kadang ada anggapan bahwa serikat terlalu berpihak kepada karyawan (istilah kasarnya menurut manajemen adalah “membela karyawan yang salah”),  

Harus disadari bahwa karena Danamon adalah perusahaan besar yang menganut GCG maka kita melihat bahwa jika proses yang menyebabkan perselisihan tersebut tidak ditangani dengan benar, dan tidak adil sejak awal maka akan dapat menjadi bumerang bagi manajemen dan perusahaan dikemudian hari, apalagi jika dalam proses tersebut terindikasi memaksa dan menghalalkan segala cara.  

Dijaman seperti ini akan tampak aneh jika masih ada Serikat Pekerja yang tidak dimintakan pendapat/masukannya dalam pengambilan keputusan untuk sekian puluh ribu karyawan oleh manajemennya terutama untuk hal yang menyangkut kesejahteraan dan nasib  karyawan.Kuncinnya adalah Kemitraan yang tulus dan hubungan yang harmonis antara Serikat Pekerja dengan Manajemen, saling menjaga dan melindungi karena semua adalah keluarga. 

Jika kemitraan sudah berjalan harmonis maka hak mogok dan demo yang merupakan hak Serikat Pekerja yang dilindungi UU itu akan menjadi cara terakhir yang akan Serikat pilih bahkan akan ditabukan kecuali sudah tak ada yang mau mendengar suara Serikat lagi. 

Serikat Pekerja Danamon saat ini telah menjadi acuan beberapa serikat pekerja sejenis dalam menerapkan pola perjuangannya.  

Serikat Pekerja saat ini diposisikan sebagai semacam ombudsmen dan sebagai  Wistle blower “ diperusahaan dalam  turut serta (berpartispasi) menjaga kelangsungan dan kemajuan perusahaan. 

Serikat Pekerja adalah Dinamisator dan Stabilisator disebuah perusahaan. 

Merubah paradigma Serikat Pekerja dari anggapan sebagai trouble maker menjadi problem solver bukanlah suatu hal yang mudah semudah membalik telapak tangan dan membutuhkan hitungan waktu yang cukup panjang, perjalanan SP Danamon penuh dengan rintangan, melelahkan, membutuhkan adrenalin yang cukup tinggi. 

Kini dunia Hubungan Indutrial Internasional mulai menerapkan pola hubungan ke MITRAAN (Partnership) yang sudah dijalankan oleh SP Danamon dan Manajemen, para praktisi dari berbagai universitas dimancanegarapun mulai banyak membuat teory tentang pola hubungan industrial era baru ini. Sementara Serikat Pekerja Danamon dengan semangat pasti bisa, telah melaksanakannya sejak tahun 2006. 

Sesungguhnya nilai-nilai yang diteorikan para ahli tersebut telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sejak lama seperti musyawarah, gotong royong dan saling menghargai, tinggal masing-masing pihak baik manajemen maupun Serikatnya apakah mau dan ikhlas melaksanakannya. 

InsyaAllah ……………….dengan niat baik pasti akan menuai hasil yang baik pula, dan kesejahteraan yang berkeadilan dapat dicapai serta dinikmati oleh seluruh karyawan Danamon .Semoga Allah SWT mengabulkan niat baik kita semua, selamat berkarya untuk perusahaan kita tercinta.


:: Index Berita

Komentar